Tampilkan postingan dengan label Kimia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kimia. Tampilkan semua postingan
Minggu, 03 Februari 2013
Laporan Kunjungan ke BATAN (Badan Atom Nasional)

Laporang kunjungan studi ke Badan Atom Nasional

Kata Pengantar 



Puji syukur kehadirat Allah SWT. karena berkat atas rahmatnya kami masih diberi kesehatan sehingga bisa menyelesaikan laporan kunjungan ini.

Di dalam laporan ini tersaji berbagai informasi yang kami dapat dari kunjungan kami ke Batan pada hari rabu, 5 Desember 2012. Namun karena keterbatasan pengetahuan kami, mungkin akan menjadikan keterbatasan kami dalam memberikan penjelasan.

Harapan kami, semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi kita. Setidaknya kita menjadi tahu, apa itu nuklir, dsb.

Akhir kata, mohon maaf apabila ada kesalahan.




Bandung, Desember 2012
Penyusun,

untuk selengkapnya silahkan untuk mendownload di :
Read more
Senin, 17 Desember 2012
no image

Sifat Oksidator Golongan Halogen

A.      Tujuan Praktikum
Menyelidiki kadar NaClO dalam salah satu bahan pemutih pakaian.
B.      Dasar Teori
Semua halogen dapat mengoksidasi air menjadi gas O2 dan bukan merupakan oksidator kuat. Larutan halogen tidak stabil karena cenderung mengalami auto-oksidasi atau auto-reduksi, proses ini disebut dengan disporposionasi.
2Cl2(aq) + 2H2O à HClO(aq) + 2HCl(aq)
Pada reaksi tersebut Cl2 mengalami reaksi reduksi dan reaksi oksidasi. Pemutih klorin (bleaching agent) mengandung larutan hipoklorit (NaOCl). Ion ClO merupakan suatu oksidator, daya oksidasinya sama dengan klorin namun ion ClO berbeda dengan Cl- sebab asam hipoklorit, HClO adalah asam lemah dan ion ClO- adalah basa yang cukup kuat.
Cairan pemutih (pengelantang) untuk pemutih pakaian (mencuci) banyak di jual di pasaran dengan berbagai merk dagang, misalnya bayclean, sunclean, dan lain-lainnya. Di dalam cairan pemutih tersebut terdapat  bahan aktif NaClO yang umumya mempunyai kadar 5,25% (menurut label). Kadar NaClO tersebut dapat ditentukan melalui titrasi volumetric dengan Na2S2O3 sebagai larutan standart.
Ion hipoklorit dalam cairan pemutih dapat mengoksidasi iodida menjadi I2. Banyaknya I2 yang dihasilkan ditentukan dengan menitrasi larutan tersebut menggunakan larutan standar Na2S2O3. Pada titrasi ini digunakan indikator amilum yang akan berwarna biru dalam larutan I2. Titik akhir titrasi ditandai dengan hilangnya warna biru dari amilum.

C.      Alat dan Bahan
Alat :
1.     Buret
2.     Klem statif
3.     Labu Erlenmeyer
4.     Beker glass / Gelas Kimia
5.     Corong
6.     Gelas Ukur
7.     Pipet tetes
8.     Botol aquades
9.     Tissue
Bahan :
1.     Bahan Pemutih 5,25 %
2.     Larutan H2SO4 pekat 2M
3.     Larutan KI 0,1M
4.     Larutan Na2S2O3 0,1M
5.     Aquades
6.     Amylum


D.      Cara Kerja
1.           Masukkan dalam gelas ukur 5 ml bahan pemutih, kemudian tuangkan ke dalam beker glass dan tambahkan aquades sampai volume 50 ml.
2.           Ambil 10 ml dari larutan tersebut lalu masukkan kedalam labu Erlenmeyer dan tambahkan 5-10 tetes H2SO4 2M.
3.           Tambahkan larutan KI dalam labu Erlenmeyer sampai larutan berwarna coklat.
4.           Lalu tambahkan pada larutan yang sudah berwarna coklat amylum 2 tetes.
5.           Titrasi dengan larutan Na2S2O3 0,1M dari buret, tetes demi tetes sampai terjadi perubahan warna putih. Catat volume Na2S2O3 0,1M yang digunakan.
6.           Ulangi sekali lagi dengan cara yang sama.

E.      Pengamatan
No.
Larutan volume pemutih
Volume larutan Na2S2O3 0,1M
1.
10 ml
9,3 ml
2.
10 ml
11,6 ml
3.
10 ml
11,7 ml

  

F.       Pembahasan
Cairan pemutih harus diencerkan terlebih dahulu sebelum dititrasi dikarenakan agar perubahan-perubahan yang terjadi selama reaksi dapat teramati dengan baik selain itu, agar apabila cairan tersebut terkena tangan, tangan kita tidak gatal.
Pada percobaan ini, ditambahkan larutan KI dan H2SO4 untuk memberi suasana asam, karena reaksi di atas hanya akan terjadi jika suasana asam.
Penambahan larutan KI yang dibuat berlebihan agar hasil I2 yang bereaksi dengan Na2S2O3 dapat bereaksi seperti yang diharapkan. ClO‾ yang mengoksidasi I‾ sangat mempengaruhi kebutuhan larutan KI.



4H+ + 2ClO- + 2e à Cl2 + 2H2O          ClO- + 2H+ + 2I- à Cl- + I2 + H2O
Cl2 + 2I- à I2 + 2Cl-                                                  I2 + 2S2O32- à S4O62- + 2I-
I2 + 2S2O32- à S4O62- + 2I-
Reaksi yang terjadi :
I.                   2NaClO + H2SO4 à Na2SO4 + Cl2 + H2O
Cl2 + 2KI à 2KCl + I2
II.                I2 + 2Na2S2O3 à Na2S4O6 + 2NaI
mmol S2O32- = 10,87 ml x 0,1 mol = 1,087 mmol
mmol I2 =  = 0,5435 mmol
untuk 10 ml larutan NaClO = mmol I2 = 0,5435 mmol

dalam volume 50 ml NaClO =  2,7175 mmol
mgr = mmol NaClO x Mr NaClO
       = 2,7175 x 74,45
       = 202,32
gr NaClO = 202,32 x 10-3 = 0,20232 gram
% kadar NaClO dalam 5 ml ( = 1 gr/mol) = 5 gram
% kadar NaClO = 4,05 %

G.     Kesimpulan
Kesimpulan yang diperoleh dari percobaan titrasi asam – basa (alkalimetri) adalah sebagai berikut :
Titrimetri (titrasi) redoks adalah titrasi yang menggunakan reaksi reduksi – oksidasi. Titrasi iodometri adalah ditrasi terhadap iodium (I2) bebas dalam larutan. Reaksi yang terjadi adalah :
2NaClO + H2SO4 à Na2SO4 + Cl2 + H2O
Cl2 + 2KI à 2KCl + I2
I2 + 2Na2S2O3 à Na2S4O6 + 2NaI
Natrium thiosulfat memiliki self indicating, akan tetapi perubahan warnanya kurang jelas. Dalam percobaan ini indikator amilum digunakan untuk lebih memperjelas perubahan warna pada saat mendekati titik ekivalen. Standarisasi larutan standar primer dilakukan untuk mengetahui konsentrasi larutan standar primer. Pencarian kadar NaOCl dapat dilakukan dengan menggunakan indikator amilum. Dari hasil perhitungan,  kadar NaOCl dari pemutih diperoleh adalah sebesar 4,05%.

Read more
Sabtu, 14 Juli 2012
no image

Kepolaran ikatan dapat ditentukan sebagai berikut :
1. Untuk molekul dwi atom
  • Jika kedua atomnya tak sejenis, molekulnya polar
  • Jika kedua atomna sejenis, molekulnya nonpolar
2. Untuk molekul poliatom
  • Jika atom pusat memiliki pasangan elektron bebas (PEB) maka molekulnya polar
  • Jika atom pusat tidak memiliki PEB maka molekulnya nonpolar
Kepolaran molekul dinayatakan dengan momen dipol, yaitu hasil kali muatan (q) dengan jarak (r) antarmuatan.
Semakin besar momen dipol, maka semakin besar pula kepolaran ikatan. Molekul nonpolar mempunyai momen dipol 0 (nol)

Demikian Cara menentukan kepolaran ikatan ini saya post, bila ada ang belum mengerti atau ada yang mau ditanyakan, jangan sungkan untuk mengisi kotak komentar dibawah.
terima kasih
Read more
Sabtu, 17 Maret 2012
no image

Terdapat berbagai cara untuk menentukan ukuran suatu benda. Menghitung jumlah, volume, bahkan massa suatu benda merupakan pekerjaan yang biasa kita lakukan sehari-hari. Beras biasa dihitung dari massanya, misalnya 1 kg. Hampir tidak pernah kita menghitung beras dalam jumlah satuan, misalnya 50 butir beras. Karena hal tersebut merupakan pekerjaan yang sulit dan tidak praktis.
Demikian pula halnya dengan atom. Hingga saat ini tidak pernah ada yang melihat atom bahkan dengan mikroskop elektron sekalipun. Atom terlalu kecil untuk dilihat apalagi untuk dihitung jumlah partikel materi. Yang dapat dilakukan adalah dengan menghitung massa atau volumenya.

Read more
Jumat, 16 Maret 2012
no image

a. Pernapasan saat tidak terbang
Inspirasi:
Otot antartulang rusuk berkontraksi sehingga menyebabkan rongga dada mengembang, demikian pula paru-paru ikut mengembang. Akibatnya, udara akan masuk ke dalam paru-paru. Sebagian udara diteruskan ke pundi-pundi udara.

Ekspirasi:
Rongga dada akan mengecil, sehingga tekanan paru-paru lebih besar dari pada tekanan udara luar sehingga udara keluar dari paru-paru. Bersamaan dengan mengecilnya rongga dada, udara dari pundi-pundi udara masuk ke paru-paru dan terjadi pelepasan O2 dalam pembuluh kapiler paru-paru. Dengan demikian, pengambilan O2 pada burung dilakukan baik pada tahap inspirasi maupun tahap ekspirasi.

b. Pernapasan saat terbang
Inspirasi:
Pada saat sayap diangkat, kantong udara antarkorakoid terjepit, sedangkan pada ketiak mengembang sehingga O2 dapat masuk ke paruparu.

Ekspirasi:
Pada saat gerakan sayap ke bawah kantong udara ketiak terjepit, sedangkan kantong udara antar korakoid mengembang. Akibatnya, udara dari paru-paru keluar. Semakin tinggi burung terbang, semakin cepat gerak sayapnya guna memenuhi kebutuhan O2


Read more
Rabu, 14 Maret 2012
no image

Hampir satu abad teori phlogiston dianut oleh para ilmuwan. Pada tahun 1774, Joseph Priestley (1733-1804) dari Inggris melakukan eksperimen dengan memanaskan calx merkuri (merkuri oksida) yang berupa serbuk merah. Calx merkuri dapat berubah kembali menjadi logam merkuri hanya dengan pemanasan tanpa penambahan materi yang kaya akan phlogiston. Calx merkuri terurai menjadi logam raksa dan suatu “udara aneh” yang berbeda dari udara biasa. Jika bara api diletakkan dalam “udara aneh”, maka ia akan menyala lebih terang. Menurut Priestly, serbuk calx merkuri menyerap phlogiston udara sehingga berubah menjadi logam raksa. Akibatnya udara di sekitarnya kehabisan phlogiston yang disebut “dephlogisticated air”.
Kegagalan teori phlogiston disebabkan pada waktu itu para ilmuwan belum memahami keterlibatan gas dalam reaksi kimia. Antoine Laurent Lavoisier (1743-1794) di Paris, Prancis, menganggap “phlogiston” adalah suatu zat khayal yang keberadaannya belum terbukti secara eksperimen. Menurut Lavoisier, suatu eksperimen kimia harus memakai pengukuran dan perhitungan kuantitatif.

Pada tahun 1779, Lavoisier mengulang eksperimen Priestly dengan lebih teliti. Ia memanaskan 530 gram logam merkuri dalam suatu wadah yang terhubung dengan udara dalam silinder ukur dalam suatu wadah tertutup. Volum udara dalam silinder ternyata berkurang sebanyak bagian, sedangkan logam merkuri berubah menjadi calx merkuri (oksida merkuri) dengan massa 572,5 gram, atau terjadi kenaikan massa sebesar 42,4 gram. Besarnya kenaikan massa ini ternyata sama dengan bagian udara yang hilang. Ia menyadari bagian udara tersebut ialah udara tanpa phlogiston yang telah bergabung dengan logam merkuri membentuk calx merkuri. Ia menamakan bagian udara tersebut sebagai oksigen.


Read more
Sabtu, 10 Maret 2012
no image

Beberapa sifat fisis logam antara lain:

a. Berupa padatan pada suhu ruang
Atom-atom logam bergabung karena adanya ikatan logam yang sangat kuat membentuk struktur kristal yang rapat. Hal itu menyebabkan atom-atom tidak memiliki kebebasan untuk bergerak. Pada umumnya logam pada suhu kamar berwujud padat, kecuali raksa (Hg) berwujud cair.

b. Bersifat keras tetapi lentur/tidak mudah patah jika ditempa
Adanya elektron-elektron bebas menyebabkan logam bersifat lentur. Hal ini dikarenakan elektron-elektron bebas akan berpindah mengikuti ion-ion positif yang bergeser sewaktu dikenakan gaya luar.

c. Mempunyai titik leleh dan titik didih yang tinggi
Diperlukan energi dalam jumlah besar untuk memutuskan ikatan logam yang sangat kuat pada atom-atom logam.

d. Penghantar listrik yang baik
Hal ini disebabkan terdapat elektron-elektron bebas yang dapat membawa muatan listrik jika diberi suatu beda potensial.

e. Mempunyai permukaan yang mengkilap

f. Memberi efek foto listrik dan efek termionik

Apabila elektron bebas pada ikatan logam memperoleh energi yang cukup dari luar, maka akan dapat menyebabkan terlepasnya elektron pada permukaan logam tersebut. Jika energi yang datang berasal dari berkas cahaya maka disebut efek foto listrik, tetapi jika dari pemanasan maka disebut efek termionik.


Read more
Jumat, 09 Maret 2012
no image

Beberapa sifat fisis senyawa ion antara lain:
a. Memiliki titik didih dan leleh yang tinggi
Ion positif dan negatif dalam kristal senyawa ion tidak bebas bergerak karena terikat oleh gaya elektrostatik yang kuat. Diperlukan suhu yang tinggi agar ion-ion memperoleh energi kinetik yang cukup untuk mengatasi gaya elektrostatik.
b. Keras tetapi rapuh
Bersifat keras karena ion-ion positif dan negatif terikat kuat ke segala arah oleh gaya elektrostatik. Bersifat rapuh dikarenakan lapisan-lapisan dapat bergeser jika dikenakan gaya luar, ion sejenis dapat berada satu di atas yang lainnya sehingga timbul tolak-menolak yang sangat kuat yang menyebabkan terjadinya pemisahan.
c. Berupa padatan pada suhu ruang
d. Larut dalam pelarut air, tetapi umumnya tidak larut dalam pelarut organik
e. Tidak menghantarkan listrik dalam fasa padat, tetapi menghantarkan listrik dalam fasa cair
Zat dikatakan dapat menghantarkan listrik apabila terdapat ion-ion yang dapat bergerak bebas membawa muatan listrik.


Read more